Khabar Ukhuwah Dari New York USA

Pidato Ust. Imam Shamsi Ali di New York

Sesama Muslim adalah saudara, maka sudah seharusnya kami saling mencintai dan mendoakan.


“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.

Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang,”

Satu hal yang paling indah dalam hidup seseorang adalah ketika hidayah tiba justeru di akhir-akhir hayat.

Saudara kita ini, MG (privasi), sebenarnya menunggu keputusan keluarga (khususnya Ibunya) untuk menyetujui life supportnya dicabut.

Para Dokter mengusulkan demikian karena menurut mereka tidak ada lagi harapan sembuh dan hidup.

Beliau sendiri hanya pasrah karena memang tidak bisa berbuat apa-apa lagi

Sebagai Chaplain di rumah sakit NY saya seperti biasa berkunjung ke rumah sakit untuk memberikan words of courage (motivasi) dan doa kepada para pasien.

Dan itu saya lakukan tidak hanya untuk pasien Muslim. Tapi juga non Muslim biasanya didoakan kesembuhan dan kuat/sabar menghadapi ujian (sakit).

Hari ini saya ketemu dengan seorang pasien yang Sudah berbulan-bulan di rumah sakit karena kanker darah.

Dan itu kanker itu sudah menyerang semua anggota tubuhnya, hingga ke otak.


Sehingga para Dokter angkat tangan dan orang ini pun hanya hidup dengan life support.

Tapi yang menakjubkan walau hidup dengan life support orang ini selalu merespon walau tidak mampu bergerak lagi.

Tapi suara dari mulutnya masih jelas dan nampak sangat bersemangat.

Hari ini saya kembali mengunjunginya sebenarnya untuk memberian semangat. Tiba-tiba saja beliau mengatakan: “I want to become a Muslim”.

Saya tentunya sangat berhati-hati. Sebab jangan sampai dianggap saya memang ada di rumah sakit untuk tujuan mengkonversi orang ke agama Islam.

Ini tentunya bukan tujuan dari pelayanan spiritual atau “chaplaincy” itu.

Tapi karena keikhlasan dan kemanisan hati Saudara kita ini, akhirnya saya meminta waktu 15 menit untuk dia memikirkan.

Saya meninggalkan dia untuk memberikan waktu bagi dia melakukan perenungan.

Beberapa saat kemudian saya kembali dan bertanya: “are you sure ready to become a Muslim?”. Jawabnya mantap: “yes I am ready”.

Alhamdulillah diapun besyahadat. Yang mengagumkan lagi, selama ini hampir suaranya tidak kedengaran karena sangat lemah.

Tapi ketika bersyahadat suara beliau jelas dan seolah sehat seketika. Allahu Akbar!

Kini Saudara kita ini telah bersyahadat dan menjadi Muslim. Semoga dikarunia kekuatan.

Apapun keputusan Allah dalam beberapa waktu ke depan ini Semoga yang terbaik.

Sejujurnya baru kali ini saya membimbing seseorang bersyahadat dengan getaran yang luar biasa.

Saya seolah merasakan suatu keindahan dan kebahagiaannya.

Semoga Allah jaga hatinya dan kalau sekiranya harus kembali ke rahmatNya, insya Allah semoga beliau husnul khatimah.

Mohon doa yang terikhlas. Niatkan untuk seorang Saudara, tanpa mengenal namanya sekalipun. Privasi di Amerika sangat terjaga.

Amin ya Rabbal alamin

Kisah Rabi Yahudi Amerika Serikat Kembali Ke Agama Nenek Moyangnya (Muslim)

IMAM SHAMSI ALI

Untuk informasi lebih lanjut tentang yayasan kami silahkan kunjungi web asofamedia.com